Banjir di Rantau Bakula Mulai Surut

Facebook
Twitter
LinkedIn
ANCAMAN: Luapan air bah dari daerah hulu diperkirakan mengulang terjadinya bencana banjir di wilayah Kecamatan Martapura.

Link, Martapura – Sempat membuat warga was-was, kini warga Desa Rantau Bakula, Kecamatan Sungai Pinang, Kabupaten Banjar bisa lebih lega. Itu karena banjir bandang dengan debit air besar sempat menggenangi perkampungan dan berdampak pada rusaknya jembatan gantung yang ada di sana.

Menurut keterangan salah satu warga Desa Rantau Bakula, yakni Iday (30), kerusakan jembatan gantung yang terbuat dari rangka besi baja. Lantai dasarnya berbahan kayu Ulin tersebut akibat ditabrak berbagai tumpukan material hingga dahan pohon yang terseret arus deras luapan air Sungai Riam Kiwa. Hal itu terjadi sekitar pukul 10.00 Wita pasca diguyur hujan lebat sejak pukul 03.00 Wita dini hari.

“Akibatnya, warga Desa Rantau Bakula pun kehilangan akses untuk menuju lahan pertanian dan perkebunan mereka. Karena jembatan itu akses satu-satunya bagi warga desa yang ingin menuju baik lahan pertanian padi, perkebunan karet, jahe dan kencur milik mereka,” ujarnya kepada linkalimantan.com melalui pesan singkat via WhatsApp, sekitar pukul 00.55 Wita.

Mengingat menjadi akses satu-satunya bagi warga Desa Rantau Bakula untuk menuju lahan pertanian dan perkebunan mereka, Iday pun berharap agar kondisi jembatan yang rusak tersebut dapat segera dilakukan perbaikan baik oleh aparat desa setempat atau Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banjar agar dapat kembali dilintasi.

Baca Juga  Kejati Minta Klarifikasi Pimpinan DPRD Banjar Terkait Perjalanan Dinas

“Tapi, siapa yang membangunkan jembatan ini saya lupa, apakah dibangunkan oleh pemerintah desa atau kabupaten,” akunya.

Tak hanya sampai disitu, Iday pun memastikan untuk ketinggian air banjir luapan Sungai Riam Kiwa di Desa Rantau Bakula mulai mengalami penurunan, dan yang lebih terdampak saat ini, yakni Desa Rantau Nangka, Kecamatan Sungai Pinang, dan beberapa desa di Kecamatan Pengaron.

“Tapi, untuk akses jalan masih belum bisa dilewati, karena banjir dibeberapa desa di Kecamatan Pengaron bisa bisa sampai 2 hingga 3 hari mulai surut. Jadi, kalau mau keluar kota harus memutar ke jalan hauling menuju Desa Bagak, Kecamatan Hatungun, Kabupaten Tapin. Kalau jarak tempuhnya sekitar 30 Kilometer, hampir sama saja dengan jarak tempuhnya kalau melalui Pengaron menuju Jalan Ahmad Yani,” pungkasnya.(zainuddin/linkalimantan.com)