Senin, Juli 22, 2024
BerandaHeadlineKematian Akhir Perjalanan Hidup di Dunia!!

Kematian Akhir Perjalanan Hidup di Dunia!!

Bismillahirohmannirrohim
Akhir dari perjalanan hidup itu pasti kematian. Kita semua pasti sepakat dengan kalimat ini. Dan kita pun pasti sepakat sebelum kematian kita hidup di wilayah yang namanya dunia. Dimana kita harus pahami, dunia ini adalah sementara, dunia ini adalah tempat ujian, di dunia ini tidak semua yang kita inginkan tercapai.


Safariyansyah, Budayawan Spiritual
Mencari yang Hilang Memelihara yang Terlupakan

Apabila kita anggap dunia ini pasar, kita harus dan berbisnis dengan Allah. Maka kita akan   bertanya-tanya: ‘apakah Allah pernah memberikan modal pada kita. Sehingga kita disuruh bekerja dan kita jadikan dunia ini tempat lahan kita, pasar kita untuk bekerja. Sedangkan bekerja perlu modal.

Kalau kita bertanya; pernahkan Allah memberikan kita modal?

Jawabannya: IYA!!!. Dan modal yang paling indah, modal paling mulia, modal paling berharga, paling bernilai yang Allah berikan kepada kita adalah KEHIDUPAN (umur). Umur ini adalah merupakan modal yang paling besar;

Allah memberikan kepada kita umur (kehidupan ini); Allah memberikan kepada kita akal; Allah memberikan kepada kita kemampuan; Allah memberikan kepada kita ilmu;

Apapun selain kehidupan kita tidak bisa menjangkau apa-apa, Bahkan Lukmanul Hakim mengatakan: ‘IT TAKHIDZILLAHATA’ALATIJAROTAN TA’TIIKALARBA’AH BILA BIDLO’AH’. Berbisnislah kamu dengan Allah, kamu akan mendapatkan keuntungan tanpa kamu harus mempunyai barang untuk kamu jual.

Dunia adalah tempat (pasar) yang kita akan berniaga dan Allah telah memberikan kepada kita modal. Apabila Allah telah memberikan kepada kita modal dan kita diletakkan di tempat ini (dunia) untuk berniaga dengan Allah.

Disebut dalam Al Quran dengan bahasa rugi itu adalah orang yang tidak mampu memutarkan modalnya. Yang tidak mampu memanage modalnya supaya menjadi keuntungan. Yang tidak mampu menjadikan umur, masa kehidupan dia ini untuk memperoleh sesuatu.

Pegangan yang pokok untuk menghadapi kehidupan ini, ada beberapa ayat yang menunjukkan bahwa ada orang yang untung dan ada orang yang rugi, terutama Surat Al A’rof 8-9;
“Kelak timbangan itu pasti ada di hari kemudian (haq), maka siapa yang amalsholehnya/kebaikannya timbangannya lebih berat mereka adalah orang-orang yang beruntung. Sesiapa yang amal sholehnya/kebaikannya, timbangannya ringan/sedikit, mereka adalah orang yang merugi, karena mereka menyia-nyiakan (menzholimi ayat-ayat kami).

Baca juga  Ibadah, Pengabdian dan Tuntutan Nafsu

Selain itu, setelah Allah membicarakan mengenai orang-orang zholim di Surat Al A’rof:8-9, Allah juga sebutkan pada Surat Hud:21.
“Mereka adalah orang-orang yang rugi diri mereka (modal diberikan oleh Allah tapi mereka tidak gunakan/rugi)”.

Kalau Allah tidak memberi modal, kemudian kita bisa mengatakan: kami tidak punya modal apa-apa, tetapi modal telah diberikan sehingga tidak ada alasan untuk tidak mendapatkan keuntungan,

Ayat berikut lainnya, Surat Hud: 53;
“Apakah mereka hanya menantikan kebenaran Al Quran ketika datang hari kebenaran kelak di hari kiamat ketika dibangkitkan dan mereka menyaksikan kebenaran. Mereka akan berkata: memang benar utusan-utusan Allah. Tuhan kami telah datang. Kemudian mereka minta dua permintaan. Apakah ada orang-orang yang mampu menolong kami memberi syafa’at ataukah kami diberi kesempatan untuk kembali ke dunia, agar kami rubah amal perbuatan kami. Allah jawab; mereka itu adalah orang-orang yang rugi diri mereka”.

Bila diperhatikan Al Quran mengatakan mereka ingin kembali ke dunia supaya mampu berbisnis dengan modal yang Allah berikan, tetapi kata Allah (DLOLLA ANHUM) mereka rugi diri mereka dan mereka sesat karena mereka membohongi ayat-ayat Allah.

“Alimtu anna akhiro amriy almauta fasta’dadtu; Aku tahu, bahwasannya akhir perjalanan hidup ini pasti ada kematian, maka dari itu aku mempersiapkan diri untuk kematian itu”  SALAFUS SHOLEH

AFWAN
WASSALAM

BERITA TERKAIT

TERPOPULER