Ngulik Agenda Besar Vivi Zubedi Membawa Produk Lokal Go International (1)

Facebook
Twitter
LinkedIn

Diawali Mengubah Pola Pikir Lama Pelaku Usaha

Oleh: Tim linkalimantan.com

Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) dan Ketua Dewan Kerajinan Daerah (Dekranasda), dua jabatan mengikat diampu Vivi Zubedi sejak sang suami, HM Aditya Mufti Ariffin dilantik sebagai Walikota Banjarbaru akhir Februari 2021. Dua jabatan yang harus dituntaskan hingga akhir periode kepemimpinan pada 2024.

Namun sebelum menjadi istri seorang pejabat teras di Balaikota Banjabaru, sosok perempuan bernama lengkap Vivi Mar’i Isa Az Zubedi ini lebih dulu masyur sebagai seorang desainer abaya -busana muslim khas Timur Tengah, dalam dunia fesyen masuk kelompok modest fashion-. Meski tak pernah mengeyam pendidikan formal bidang tata busana, dan hanya diawali hobi, karyanya suskes tak hanya di pasar nasional. Mengusung label VZ, yang tak lain inisial namanya, Vivi Zubedi bahkan sukses menembus pangsa internasional.

Busana karya Vivi Zubedi di antaranya pernah ditampilkan di New York Fashion Week (NYFW) di Amerika Serikat. Tak hanya sekali, tapi tiga tahun berturut-turut. Masing-masing pada 2017 dengan koleksi busana diusung bertema Makkah Madinah Jannah, Urang Banjar pada 2018, dan The Marrakeh di tahun berikutnya. Teranyar, busana yang didesainnya juga ditampilkan pada even Dubai Modest Fashion Week Desember 2021 tadi.

Go international, itu juga tekad, sekaligus target Vivi Zubedi pada produk-produk kerajinan tangan para perajin di ‘Kota Idaman’. Langsung mengebrak, Vivi bahkan telah membawa produk kerajinan purun dan tas rajut menembus pasar ekspor Singapura pada Mei 2021 lalu. ‘Bhanjaruu Bags’ label disematkan untuk tas rajut asli buatan perajin Kota Banjarbaru.

“Pada perhelatan di Singapura beberapa waktu lalu, kita masuk tiga penjualan terbaik dengan nilai mencapai ratusan juta,” kata Vivi saat diwawancarai ekslusif linkalimantan.com awal Januari 2022 lalu.

Itu tahap awal, kata Vivi. Karena diakuinya pada perhelatan di Singapura tersebut masih dalam kapasitas terbatas, kuantitas maupun kualitas produk yang dipasarkan. Itu lantaran pihaknya di Dekransda sangat selektif. Hanya produk-produk kerajinan tangan memenuhi standar pasar internasional dibawa.

Baca Juga  Dekranasda Banjarbaru x VIVI ZUBEDI Gelar Gala Dinner dan Chairity Auction

Pun menurutnya, pada 2021 dirinya di Dekranasda fokus membangun sumber daya manusia, yang tak lain adalah para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Termasuk di dalamnya, membangun untuk mengubah pola pikir lawas para pelaku usaha lokal.

Paling sederhana, Vivi menyontohkan pemahaman pelaku usaha makna kesuksesan atas sebuah produk yang dihasilkan. Pada pola pikir lama, sukses dan menjadi sebuah pencapaian kala dikunjungi pejabat daerah, produknya dibeli lantas difoto dan diunggah di media sosial. Atau sukses produknya telah ditampilkan pada even-even regional di daerah, dan menjadi juara.

“Tapi bagi saya itu belum arti sebuah kesuksesan. Karena itu dalam banyak kesempatan, saat pelatihan-pelatihan selalu saya sampaikan kepada para ibu-ibu, sukses bukan semata mendapat piala di panggung, atau produknya difoto dishare ke media sosial. Sukses adalah saat produk kita diterima di kalangan luas, termasuk pasar ekspor,” katanya.

Untuk dapat diterima kalangan luas itulah, kata Vivi produk-produk yang dihasilkan memang harus memenuhi standar nasional maupun internasional. Karena itu dibuatkan sebuah buku panduan untuk menghasilkan produk berstandar eskpor. “Semacam Guideline Book,” imbuhnya.

Diakuinya, tak mudah mengubah pola pemikiran lama para pelaku usaha. Pasalnya tak sedikit pelaku usaha yang bandel dan menganggap panduan pada guideline book tak perlu diterapkan. Finishing misalnya. Karena setiap produk yang diekspor ke luar negeri wajib menyertakan panduan cara perawatan produk tersebut. “Untuk dapat bersaing di pasar ekspor, terpenting menjaga standar quality. Tak cukup sekadar quantity. Itu fokus kami di 2021” kata Vivi. (bersambung/linkalimantan.com)