Ngulik Agenda Besar Vivi Zubedi Membawa Produk Lokal Go International (3-habis)

Facebook
Twitter
LinkedIn

Dengan ‘Tangan Besi’, Tak Peduli Meski Rogoh Kantong Pribadi

Oleh: Tim linkalimantan.com

Berlatar belakang desainer abaya – busana muslim khas Timur Tengah- dengan karya telah menembus pasar internasional, menjadi modal penting Vivi Mar’i Isa Az Zubedi, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Banjarbaru membawa produk lokal, utamanya kerajinan tangan (craft) menembus pangsa luar negeri.

Singapura menjadi negara pertama. Di Negeri Singa, istri Wali Kota Banjarbaru HM Aditya Mufti Ariffin ini memasarkan produk perajin lokal dalam rupa tas rajut yang diberi brand ‘Bhanjaruu Bags’. Hasilnya, menurut Vivi Zubedi cukup fantastis karena masuk tiga penjualan terbaik dengan hasil penjualan mencapai ratusan juta rupiah.

Runut berikutnya, permintaan ‘Bhanjaruu Bags’ mengalir deras. “Belum lama tadi saya dikontek salah satu penjaringan terbesar di Asia, Net Asia untuk bertemu dan membicarakan kelanjutan kontrak kerjasama terkait produk Banjarbaru. Bayangin, terbuka besar untuk pasar Singapur, semua department store mereka minta itu ‘Bhanjaruu Bags’,” kata Vivi.

Sebuah peluang besar, meski untuk itu Vivi mengaku harus merogoh kocek pribadinya hingga ratusan juta untuk membeli kerajinan dari para perajin. Baru setelah itu barang dia kirim ke Singapura untuk dipasarkan. Karena umumnya, para perajin tidak sabar dan menginginkan cepat dapat uang. “Ada yang saya beli harga Rp30 juta, ada yang Rp70 juta. Dan itu 100 persen menggunakan dana saya pribadi,” ujarnya.

Diawal, Vivi mengaku bisa melakukannya. Tapi selanjutnya, untuk menangkap peluang besar pasar ekspor ia mengaku perlu kerjasama sejumlah pihak, pelaku UMKM itu sendiri juga instansi terkait di lingkup Pemerintah Kota (Pemko) Banjarbaru. Termasuk Kerjasama dalam hal pemahaman alur ekspor barang keluar negeri hingga dilakukannya pembayaran. Karena saat ini, banyak perajin yang belum memahami alur pasar ekspor ke luar negeri.

Baca Juga  Jadwal Kunker Pansus PT BIM Tak Disetujui Pimpinan

“Ada proses. Tidak hari ini dijual hari ini juga dibayar. Pembayaran baru dilakukan setelah rampung rekap. Itu juga kalua para perajinnya benar-benar mau produknya terjual hingga luar negeri,” kata Vivi.

Menurutnya, menembus pasar ekspor sebenarnya tak sulit. Dengan catatan, produk yang dihasilkan memenuhi standar kualitas sebagai sebuah produk. Yang menjadi tatangan justru para pelaku UMKM itu sendiri. Dicontohkan Vivi finishing produk. Sebuah produk yang dikirim keluar negeri wajib dilengkapi cara mencuci dan perawatannya. Bagi pelaku UMKM di Banjarbaru itu dianggap tidak perlu. Padahal itu penting dan harus ada.

Karena itu, dirinya sangat selektif terhadap pelaku UMKM dan produk yang dihasilkan. Al hasil, secara kuantitas produk yang bisa dihasilkan dan dikirm ke pasar luar negeri juga masih terbatas. “Yang tidak sesuai standar, tidak akan saya proses. Bergantung pada UMKMnya, mau atau tidak,” kata Vivi.

Dengan pola seperti itu, ia mengakui, bagi sebagian pelaku UMKM dianggap cukup keras, termasuk saat pelatihan-pelatihan demi terpenuhinya standar produk kualitas ekspor. Namun tak ada pilihan lain jika memang produk UMKM Banjarbaru ingin menembus pasar luar negeri.

Keras namun bukan tanpa upaya. Karena dikatakan dia, untuk membina para pelaku UMKM dirinya telah menyiapkan ruang 24 jam via grup WhatApps. Di sana pelaku UMKM dapat berkonsultasi banyak hal seputar pengembangan produk. “Malam-malam ada yang bertanya, kombinasi warna, saya jawab,” pungkasnya. (linkalimantan.com)