Rabu, Mei 22, 2024

Warga Belangian Jadikan Limbah Kayu Ulin Pewarna Batik

Link, Martapura – Limbah kayu ulin ternyata bisa memberikan manfaat yang bernilai ekonomis tinggi. Hal itu dibuktikan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Belangian, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, Kalsel.

Aunul Khair (50) warga Desa Belangian bersama 19 rekannya yang tergabung dalam Pokdarwis, mampu memberikan sentuhan berbeda pada kain batik dengan corak warna berbahan ramah lingkungan yakni limbah kayu ulin.

Aunul mampu menggunakan limbah yang tidak terpakai seperti serbuk kayu ulin menjadi bahan pewarna alami untuk batiknya. Selain serbuk ulin ia juga menggunakan bahan alami lainnya seperti akar akaran hingga dedaunan.

” Serbuk ulin itu banyak ditempat kita, akar akasia juga, akar mengkudu, daun ketapang, daun kersen dan lainnya,” rinci Aunul ketika dijumpai usai mengikuti Bimtek Inovasi Daerah Kabupaten Banjar di Hotel Tree Park Kertak Hanyar, Kamis (27/4/2023) siang.

BACA JUGA  Presiden: Ajang Internasional Pacu Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Aunul yang hadir dengan baju batik warna coklat hasil pewarnaan dengan serbuk ulin tersebut mengatakan, banyak keuntungan yang didapat ketika bikin batik dengan pewarna alami. Antara lain perajin terhindar dari zat kimia yang lama kelamaan bisa membahayakan kesehatan, serta limbah yang dihasilkan ramah lingkungan bisa digunakan untuk pupuk tanaman.

“Beda dengan zat kimia, limbahnya bisa merusak tanah dan lingkungan jika dibuang sembarangan,” ucapnya.

Usaha yang digeluti sejak tahun 2022 lalu berawal dari masukan dari berbagai pihak untuk membuat batik ecoprint. Dari sanalah Ainul bersama rekan-rakannya  membuat perencanaan, lantaran didukung bahan yang mudah didapat di sekitar. Usaha tersebut berjalan hingga sekarang.

BACA JUGA  Presiden Jokowi Tinjau Perusahaan Indonesia di Filipina

Dari segi ekonomi sendiri kain batik pewarna alami lebih menjanjikan lantaran harga jualnya cukup tinggi.
Aunul merinci harga jual bisa mencapai 400 hingga 500 ribu rupiah perpotong, berbeda dengan kain sasirangan yang bisa didapat dengan harga 120 hingga 150 ribu perpotongnya.

“Harganya memang lebih mahal, karena proses pewarnaan yang agak lama, minimal 1 minggu untuk melekatkan agar hasil maksimal,” ujarnya.

Untuk pemasaran, Aunul mengakui sejauh ini pihaknya menjual batik hasil karyanya melalui online, serta dipamerkan pada even-even tertentu seperti MTQ tingkat nasional beberapa waktu lalu.(oetaya/BBAM)

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

TERPOPULER