Alhamdulillah, Sang Birokrat Petani  Panen Padi Gunung

Facebook
Twitter
LinkedIn

Link.com, Peramasan – Rupanya tak hanya bercocok tanam jenis tanaman keras saja yang dilakukan Muhlisaril Hasani. Karena ternyata salah seorang birokrat petani ini juga bercocok tanam palawija. Menggunakan bibit lokal dan pupuk organik, Ulis kini bisa menikmati panen padi gunungnya di dua lahan masing-masing seluas dua hektare.

“Alhamdulillah, saat ini kami tengah mamanen padi lokal  jenis Buyung. Buyung ini merupakan varietas padi andalan bagi petani di Kecamatan Permasan. Tetapi tentu saja, masih banyak varietas padi lokal lainnya yang tak kalah pavoritnya,” ungkap Ulis kepada Linkalimantan.com, Selasa, 22 Maret 2022.

Menurut pejabat yang kini berdinas di Kecamatan Peramasan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, dirinya dan sejumlah petani terus berusaha untuk tak lagi menggunakan konsep ladang berpindah.

“Tidak gampang, karena itulah kami berupaya untuk membuktikan jika aktivitas pertanian tak mesti harus berpindah-pindah. Alasan utama ladang berpindah itukan karena asalan kesuburan tanah,” paparnya.

Iya tambahnya lagi, tanah di sana setelah ditanamai selama empat musim tanam tentu saja unsur haranya kian menitis. Pada gilirannya hasil pertanian tidak maksimal lagi. Karena itulah mereka membuka lahan yang sudah ditinggalkan lama untuk bercocok tanam selanjutnya.

Baca Juga  Filosofi, Logo dan Makna Tema Besar HUT Kemerdekaan RI ke-77

“Problemnya kan jelas, berpindah ladang itu karena alasan ketidaksuburan tanah. Pupuk! Jawabannya. Itu yang kemudian kami lakukan di sana. Alhamdulillah dari tahun ke tahun hasil panennya tetap bagus,” ujarnya seraya mengisap batang rokoknya.

Dari apa yang kami lakukan itulah ungkapnya, beberapa petani datang untuk bertanya cara untuk bisa bertani menetap. Semua apa yang dilakukannya pun diceritakan kepada mereka yang datang.

“Saya katakan solusinya dengan gunakan pupuk organik hasil buatan sendiri. Selain murah, bahan-bahan pembuatan pupuk organik secara alami sudah tersedia di sana. Saya pun bilang ke mereka, karena saya muslim saya tidak akan menggunakan pupuk yang berpotensi mengandung racun. Karena kata guru saya, tidak boleh orang Islam itu menjual hasil pertanian yang mengandung racun,”  tegasnya.

Lebih jauh menurut pejabat yang sebentar lagi memasuki purna rugas sebagai birakrat ini, proses pembuatan pupuk organik mudah dan sangat murah jika dibandingkan dengan penggunaan pupuk pabrikan.

“Pokoknya belum habis persediaan pupuk organik, saya sudah membuat lagi. Begitu seterusnya. Belakangan selain untuk keperluan saya sendiri, pupuk oragnik yang saya buat juga digunakan kawan-kawan petani lainnya,” ujarnya sambil tersenyum ceria.(spy)