Link, Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) perkenalkan teknologi sistem informasi pendeteksi tanah (TRIGRS). Ini sebagai upaya dalam mengurangi risiko bencana tanah longsor.
“TRIGRS merupakan sebuah aplikasi untuk mengetahui parameter yang memengaruhi kestabilan lereng. Sehingga datanya dapat dimanfaatkan untuk mengetahui kerentanan tanah di suatu daerah,” kata Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Khori Sugianti dalam keterangannya, Selasa (3/9/2024).
Khori menjelaskan TRIGRS adalah pengembangan dari perangkat lunak buatan Lembaga Geologi Amerika Serikat (USGS). Ini yang kemudian dikembangkan lebih lanjut melalui kolaborasi dengan BRIN.
Melalui teknologi tersebut, ia memaparkan, pemodelannya menunjukkan adanya pengaruh yang diciptakan. Ini oleh intensitas curah hujan terhadap kestabilan lereng.
“Pemodelan TRIGRS menunjukkan bahwa kenaikan intensitas curah hujan dapat memengaruhi kestabilan lereng. Kami melakukan penelitian di daerah Lembang dan sekitarnya,” ujarnya.
Khori menilai, model TRIGRS cukup baik dalam memprediksi kestabilan lereng akibat hujan pada area rawan longsor. Sebab data inventaris kejadian longsor merupakan faktor yang berpengaruh pada keberhasilan model TRIGRS dalam proses validasi model.
Karenanya, ia berharap, temuannya tersebut bisa menjadi pertimbangan pemangku kepentingan terkait di wilayah rawan bencana tanah longsor. Khususnya di Lembang, Jawa Barat di tempat penelitiannya tersebut.
“Kami sangat berharap kolaborasi dengan berbagai pihak di daerah Lembang dan sekitarnya, seperti pemerintah daerah dan instansi terkait. Ini untuk dapat mengimplementasikan inovasi ini sebagai bentuk mitigasi bencana longsor di kemudian hari,” ucapnya.