Selasa, Mei 21, 2024

Kota Serambi Makkah Bukan Sekadar Julukan (1)

Bismillahirohmannirrohim.

Ratusan tahun silam, pendiri negeri ini Tuan Syekh Kalampayan telah menamai Kota Martapura dengan nama Serambi Makkah. Ratusan tahun sesudahnya Tuan Syekh Sekumpul yang menghidupkannya, hingga saat sekarang.

Kota Serambi Makkah Bukan Sekadar Julukan (bag-1)

SAPARIYANSYAH, BUDAYAWAN SPIRITUAL

Mencari yang Hilang, Memelihara yang Terlupakan

Kota Serambi Makkah, sesuai namanya banyak terdapat kalimat-kalimat Illahiah yang dicanangkan Tuan Syekh. Kalimat-kalimat Illahiah yang dituangkan dalam berbagai pahatan kaligrafi terpampang elok di seantero Kota Serambi Makkah

Pendeknya begitu Anda memasuki Kota Serambi Makkah, tulisan-tulisan kaligrafi Asmaul Husna terpampang jelas di sepanjang jalan. Sangat jelas terpajang di tiang-tiang penerangan jalan umum.

Dari apa yang telah dipondasikan para Wali Allah ini, menyadarkan kita untuk tidak terpedaya dengan dunia. Semua itu sudah sangat jelas tertuang dalam Kitabullah Alqur’an sebagai panduan hidup.

Pertanyaannya, sebenarnya kehidupan ini  apa?

Sementara dalam lakonnya, manusia selalu diliputi dengan berbagai macam masalah.

BACA JUGA  Kultur budaya ditinggalkan muncullah degradasi kehidupan

Banyak hal yang dulunya tidak pernah diduga, semuanya terjadi, dimana orang sedang dalam keadaan stress, goncang bahkan sebagian telah menjual bukan hanya dirinya bahkan agama dan kehormatannya.

Hal-hal semacam ini tidak hanya persoalan ekonomi, sosial, rumah tangga dan sebagainya.

Sebagai Budayawan Spriritualis, dari apa yang saya pelajari dahulu dalam menghadapi keruwetan urusan dunia masyarakat selalu menjadi Orang Alim (tuan guru) sebagai rujukan.

Hasilnya, semua baik-baik saja. Syaratnya tetap cukup sami’na wa atho’na atau dalam bahasa Banjarnya singkatnya ma’asi lawan digawi.

Banyak cerita, dahulu segala kegundahan hidup terselesaikan dengan mudah.  Dulu ada kebiasaan di kota ini, dalam perjalanan hidup masyarakat selalu berhubungan dengan para guru agama / ulama.

Semisal, mau nikah, menentukan pasangan sampai hari pernikahan nya pun apa kata sang guru. Termasuk saat menamai anak.
Tak cukup urusan keseharian, urusan pencoblosan calon pemimpin, dari posisi terendah sampai presiden atau anggota dewan juga bertanya ke guru.

BACA JUGA  Masa Muda Masa Keemasan Membangun Negeri

Kini semua itu tinggal cerita. Kalau toh orang datang ke guru tujuannya lebih banyak urusan duniawi. Sementara yang harus dipahami terlebih dahulu “kehidupan ini apa? Dunia yang kita jalani ini apa?.

Itu semua menjadi sangat penting, karena kita hidup dan tinggal di dunia ini, maka kita harus tahu apa sebenarnya dunia. Kalau kita melewati atau bertempat tinggal di tempat yang kita tidak paham pola kehidupannya, maka akan membahayakan.

Hal-hal yang paling mendasar yang harus diketahui oleh setiap orang yang masih mau meneruskan perjalanan hidupnya di dunia ini menuju Allah SWT. Ingatlah salah satu yang harus diyakini bahwa dunia ini adalah SEMENTARA, tidak langgeng.

Dunia adalah sementara,  tidak abadi, tidak kekal; Sehingga kita tidak mengorbankan hal-hal yang kekal untuk hal-hal yang tidak kekal. (bersambung)

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

TERPOPULER