Sabtu, Juni 22, 2024
BerandaHeadlineMenghadiri Majelis Itu Indah, Mengamalkan Isinya Lebih Indah

Menghadiri Majelis Itu Indah, Mengamalkan Isinya Lebih Indah

Bismilahirrahmannirahim
Di era zaman ini betapa menjamurnya keberadaan majelis-majelis ta’lim. Ribuan bahkan jutaan ummat setia hadir di majelis-majelis keilmuan itu. Sajian keilmuan hidup dan kehudapan berdasarkan nilai-nilai agama (Kitabullah) tersaji disana. Tinggal sejauh mana bisa menganflikasikan dalam keseharian.

Safariyansyah, Budayawan Spiritual
Mencari yang Hilang Memelihara yang Terlupakan

Berbondong-bondong pergi ke majelis bukan lagi sebuah pemandangan yang mengherankan. Baik di kawasan perkotaan sampai ke pelosok daerah. Ya, karena memang di era zaman sekarang menghadiri majelis seakan menjadi kebutuhan hidup.

Terasa begitu indah menyaksikan semua itu. Hanya saja yang harus kita sadari hadir di majelis ta’lim itu indah (baik), tapi yang lebih indah adalah mengamalkan isi dari majelis ta’limi tersebut.

Sebagai mahluk yang telah diberikan modal paling berharga dari Allah yakni kehidupan dalam menjalani misi di dunia fana ini agar sukses. Kesuksesan itu sempurna jika ketika hidup di dunia terpuji. Kemudian saat dibangkitkan di ahirat terpuji bersama orang yang dipuji oleh Allah.

Begitulah reliatnya, majelis bejibun, baik majelis pengajian langsung maupun melalui postingan diberbagai media sosial. Pokoknya urusan da’wah/tausiah untuk menjadikan kita itu sehat jiwa dan raga (berakal) sudah sangat buanyaakkk. Termasuk dalam kehidupan bernegara, berpolitik yang benar, juga sudah dipaparkan secara terang benderang. Namun pertanyaannya bagaimana dalam tatanan praktiknya?

Baca juga  Tenangkan Hati, Kuatkan Jiwa dan Jangan Pernah Takut

Kini untuk kali pertama bangsa Indonesia menggelar pesta demokrasi pemilihan kepala daerah secara serentak. Dimana perjalanan masing-masing daerah akan ditentukan pda moment ini. Sebuah pertaruhan besar bagi kita dalam menjalaninya.

Salah satunya mampukah ilmu-ilmu yang diperoleh dari majelis ta’lim untuk diaplikasikan dalam momen ini?

Begitu pandangan seorang teman saat berdiskusi soal pelaksanaan pemilu yang semestinya luber jurdil. Dimana ada kata jujur di dalam prinsip pemilu yang dianut di negeri tercinta ini. Katalognya sudah sangat lengkap.

Apalagi untuk ukuran di negeri ini, kejujuran sudah pasti acap akali disampaikan melalui majelis-majelis ta’lim. Termasuk jujur (tidak curang) dalam melakoni peran di dunia politik kita.

Praktiknya, dalam setiap masa pemilu kalimat-kalimat mengajak seseorang untuk mengambil peran dengan iming-iming materi sesaat dari masa ke masa semakin dominan. Jangan masyarakat tak mampu, para leader muslim yang jelas-jelas memiliki katalog pun tidak sedikit yang turut terseret pada kepentingan materi sesaat itu. Hasilnya, tidak sedikit orang berkeluh kesah dengan para pemimpin negeri yang dipilihnya lantaran tidak bisa memenuhi harapan yang diinginkan.

AFWAN
WASSALAM

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img

TERPOPULER