Sabtu, Februari 24, 2024

Penggunaan Minyak Jelantah Bahaya Untuk Kesehatan

Demi menghemat pengeluaran, banyak orang yang masih menggunakan minyak jelantah untuk memasak. Padahal penggunaan minyak jelantah ini bisa berisiko bahkan bisa jadi tidak halal. Ini penjelasannya.

Minyak jelantah adalah minyak limbah dari penggunaan minyak goreng. Biasanya telah digunakan lebih dari dua atau tiga kali penggorengan. Tentu saja, warnanya gelap, aromanya tak sedap dan ada bekas serpihan bahan makanan hangus.

Meski begitu, minyak jelantah masih masif digunakan dalam keseharian baik dalam rumah tangga maupun dalam warung makan. Alasan yang paling umum mengenai penggunaan minyak jelantah adalah untuk menghemat pengeluaran.

Menggunakan minyak jelantah mungkin bisa menghemat pengeluaran, terapi minyak limbah ini sangat riskan digunakan. Tidak hanya dalam aspek kesehatan, tetapi juga aspek kehalalan minyaknya.

Berikut ini penjelasan dari LPPOM MUI:

  1. Aspek Kesehatan

Menurut guru besar IPB University, Prof. Dr. Ir. Sedarnawati Yasni, M. Agr, penggunaan minyak jelantah sangat berisiko buat kesehatan bagi yang mengonsumsinya.

Hal yang sama pun disampaikan oleh Prof Sedarmawati, auditor senior LPPOM MUI. Ia mengatakan bahwa minyak jelantah bisa menjadi sumber munculnya berbagai penyakit. Mulai dari kanker, infeksi bakteri, obesitas dan penyakit degeneratif.

Seperti diketahui, minyak jelantah bisa menjadi media penyerapan radikal bebas yang akan ikut terserap ke dalam makanan yang digoreng. Makanan tersebut kemudian masuk ke dalam tubuh dan menyerang sel-sel dalam tubuh. Zat tersebut akan menjadi karsinogen penyebab kanker.

Bahaya minyak jelantah ini bahkan telah dibuktikan lewat sebuah penelitian. Penelitian yang dilakukan di University of the Basque Country di Spanyol, minyak jelantah mengandung senyawa organik aldehid.

Baca Juga  Intip Harga dan Fasilitasnya Kamar di RSD Idaman

Itu bisa menjadi zat karsinogen dalam tubuh manusia yang pada gilirannya memicu penyakit degeneratif. Misalnya penyakit jantung, penyakit Alzheimer, dan penyakit Parkinson.

  1. Aspek Kehalalan

Selain riskan dalam aspek kesehatan, minyak jelantah juga menjadi perhatian dari aspek kehalalannya. Memang saat ini sudah banyak produk minyak goreng yang telah bersertifikasi halal.

Namun, jika kondisinya minyak goreng tersebut digunakan untuk menggoreng makanan yang tidak halal, maka minyak jelantahnya pun juga menjadi haram. Minyak jelantah ini mungkin banyak digunakan oleh penjual makanan yang belum bersertifikasi halal.

Para pedagang jenis ini umumnya menggunakan minyak jelantah yang mereka beli dari restoran, kemudian dimurnikan kembali. Cara ini memang lebih hemat, tetapi sangat diragukan kehalalannya.

Sementara kita tidak mengetahui sebelumnya minyak goreng tersebut telah digunakan untuk menggoreng makanan halal atau tidak. Karenanya, Prof. Sedarnawati menyarankan untuk lebih bijak dalam memilih dan menggunakan minyak goreng.

  1. Cara Memilih Minyak Goreng

Agar terhindar dari risiko bahaya dan keharaman minyak jelantah, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama, pastikan bahwa minyak goreng yang dibeli telah bersertifikat halal.

Kedua, jangan gunakan minyak goreng tersebut untuk menggoreng secara berulang-ulang. Maksimal penggunaan cukup dua sampai tiga kali penggorengan sambil dicermati perubahan warnanya.

Ketiga, hindari membeli minyak goreng jelantah yang tidak jelas sumbernya, karena potensi tercampur dengan bahan haram sangatlah tinggi.

Keempat, jika ingin membeli gorengan, pastikan bahwa pedagangnya menggunakan minyak goreng yang sudah bersertifikat halal, bukan menggunakan minyak jelantah. (net)

Sumber: Detikfood

BERITA POPULER