Minggu, Maret 3, 2024

Sejarah Kapal Pinisi Jadi Tampilan Google Doodle

Link, Banjarbaru – Google Doodle hari ini, Kamis (7/12/2023) tampil dengan sejarah kapal pinisi. Kapal Pinisi yang merupakan kapal legendaris milik masyarakat Bugis ini menjadi salah satu simbol kebudayaan dan kemaritiman Indonesia yang telah mendunia.

“Doodle hari ini merayakan pinisi, kapal tradisional Indonesia yang digunakan sejak berabad-abad lalu,” tulis Google di situs resminya.

Dari catatan sejarah Kapal Pinisi sangat istimewa. Terutama cara pembuatannya yang masih sangat tradisional dan mengandung nilai-nilai budaya yang tinggi. Kapal pinisi dibuat langsung di bibir pantai, dengan menggunakan kayu pilihan yang diukir dan disambung dengan cara khusus.

masih menurut catatan sejarah Kapal Pinisi sudah ada sejak abad ke-14 atau tahun 1400-an dibuat oleh masyarakat Bugis, khususnya di daerah Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Kapal ini digunakan sebagai alat transportasi, perdagangan, dan penjelajahan oleh para pelaut Bugis dan Makassar. Kapal pinisi juga dikenal sebagai kapal yang tangguh, cepat, dan mampu mengangkut muatan yang banyak. Kapal pinisi bahkan pernah berlayar hingga ke Madagaskar, Afrika, dan Australia.

Pembuatannya melibatkan ritual-ritual adat, seperti memilih hari baik, memotong pohon, memasang tiang, hingga meluncurkan kapal ke laut. Biasanya dilakukan secara gotong royong oleh para pembuat kapal yang memiliki keahlian turun temurun.

Baca Juga  Tampilan Google Doodlle Hari Ini Tema Pemilu di Indonesia

Bentuknya yang khas, dengan dua tiang utama yang membawa tujuh helai layar berbentuk segitiga. Tujuh layar ini melambangkan kemampuan nenek moyang bangsa Indonesia untuk mengarungi tujuh samudera di dunia

“Kapal pinisi modern pertama dibuat pada tahun 1906. Dengan mengambil inspirasi dari gaya tali-temali Eropa, mereka menyadari bahwa dengan menghilangkan tiang buritan di tengah, kapal dapat melaju lebih cepat – sebuah keuntungan besar dalam mengangkut kargo dan masyarakat,” tulis Google dalam keterangannya.

Pada tahun 1980-an, masyarakat mulai menambahkan mesin pada perahu pinisi. Setelah bertahun-tahun berbagi desain secara lisan, cetak biru kapal tersebut secara resmi dikodifikasi pada tahun 90an.

Warisan pembuatan kapal Sulawesi Selatan masih terus berkembang. Saat ini menjadi pilihan utama untuk perjalanan memancing dan ekspedisi wisata.

Dan karena keunikan dan keindahannya tahun 2017, UNESCO menetapkan “Pinisi: Seni Pembuatan Kapal di Sulawesi Selatan” sebagai Warisan Budaya Dunia dalam kategori warisan budaya takbenda. Penghargaan ini merupakan bentuk pengakuan dunia terhadap kekayaan dan kearifan lokal Indonesia dalam bidang kemaritiman. (tri/net)

BERITA POPULER