Warga Cempaka Pertahankan Tradisi Asyura

Facebook
Twitter
LinkedIn

Link, Banjarbaru – Warga Cempaka pertahankan tradisi Asyura, yakni memasak bubur asyura dan berpuasa sunat setiap 10 Muharram.

 

Warga Cempaka, Kota Banjarbaru setiap menjelang 10 Muharram disibukkan dengan persiapan perayaannya. Dengan cara urunan warga melengkapi kebutuhan yang diperlukan untuk memasak bubur Asyura.

 

Sekadar diketahui, umat Islam di Kalimantan Selatan di bulan Muharram selalu menggelar tradisi khusus. Selain berpuasa, orang-orang Banjar juga biasanya merayakan dengan membuat makanan spesial yakni bubur asyura. Tak terkecuali warga Cempaka, Kota Banjarbaru.

 

“Setiap tahun warga di sini selalu terlibat dalam perayaan hari 10 Muharram. Ada yang memberi beras, rempah-rempah maupun berupa uang. Semua itu dikumpulkan dan pada 10 Muharram kami memasak bubur secara bersama-sama,” ungkap Kiah, salah seorang warga yang biasa menjadi koordinator persiapan.

 

Dijelaskannya, walau dalam kondisi perekonomian yang sedang tidak bagus, untuk urusan keagamaan dan tradisi warisan, warga Cempaka, khususnya Kertak Baru Kelurahan Cempaka tidak ingin ketinggalan.

 

“Seperti kondisi saat ini, di sini baru saja dua kali terendam banjir. Tetapi untuk urusan ini warga berbondong-bondong turut terlibat. Ada yang membantu kayu bakar, bumbu, ikan da nada juga yang siap dengan tenaga,” katanya di sela-sela mengaduk bubur.

Baca Juga  Koramil 08/Lau Cek Harga Sembako di Pasar

 

Dalam membuat bubur asyura ungkap Kiah, dibuat dari campuran 41 jenis bahan. Antara lain aneka macam sayuran, kacang-kacangan, sampai daging.

 

“Jumlah 41 bahan ini harus dicukupi karena sudah jadi tradisi. Tak ada resep pasti dalam membuat bubur ini,” ujarnya.

 

Bagi kami di Kertak Baru ungkapnya, ada beberapa bahan yang selalu digunakan dalam membuat bubur tersebut. Seperti wortel, kentang, daging ayam dan beberapa bahan lainnya.

 

“Memasaknya ramai-ramai, tidak hanya dilakukan satu atau dua orang saja tetepai dilakukan secara kelompok. Setelah masak, bubrnya dibagi-bagi kepada warga,” jelas sambil tersenyum

 

Tradisi memasak bubur Asyura tersebut bukan hanya terlihat di Ketak Baru saja, di komunitas mayoritas Ummat Islam yang ada di Kota Banjarbaru juga tak ketinggalan melaksanakan perayaan yang sama. Biasanya kegiatan memasak bubur dilakukan di mushola atau masjid-masjid yang ada. (wahyu/BBAM)