BerandaHukum PolitikLinkFlashDPKP Banjar Torehkan Prestasi di Tingkat Nasional

DPKP Banjar Torehkan Prestasi di Tingkat Nasional

Link, Martapura – Bupati Kabupaten Banjar, H Saidi Mansyur, menyerahkan piala juara II tingkat nasional kategori survival dalam National Firefighter Skill Competition (NFSC) 2026 kepada Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP).

Piala juara II tingkat nasional kategori survival dalam NFSC 2026 tersebut diserahkan Saidi Mansyur kepada Kepala DPKP Kabupaten Banjar, Agus Siswanto, didampingi timnya usai kegiatan apel pada Senin (4/5/2026) pagi.

Perlu diketahui, piala juara II tersebut berhasil diboyong DPKP Kabupaten Banjar setelah menaklukkan tantangan survival dalam kompetisi NFSC 2026 yang digelar di Benteng Kuto Besak (BKB), Palembang, selama tiga hari, 27–29 April 2026, dan diikuti 42 tim dari berbagai kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

BACA JUGA :  Sekwan dan Empat JPTP Pemkab Banjar Dirotasi

Kategori survival dalam kompetisi NFSC dikenal sebagai salah satu yang paling berat karena menguji ketahanan fisik dan mental dalam kondisi ekstrem, seperti ruang gelap, sempit, dan penuh rintangan dengan suplai udara terbatas.

Meski menjadi kategori tersulit, DPKP Kabupaten Banjar tetap mampu meraih posisi kedua, sementara posisi pertama diraih Kota Makassar.

Kepala DPKP Kabupaten Banjar, Agus Siswanto, melalui Kepala Bidang (Kabid) Pemadam Kebakaran, Penyelamatan, dan Sarana Prasarana, M Kasyaf Ritaudin mengatakan, capaian tersebut merupakan hasil kerja keras dan kedisiplinan tim selama persiapan yang dilaksanakan kurang lebih dua bulan sebelum keberangkatan ke Palembang.

BACA JUGA :  Sertifikat Hak Tanah Nelayan Hingga Bantuan Operasional Kesehatan Diserahkan Pemkab Banjar

“Kami memberangkatkan satu tim inti berisi enam personel terbaik, didampingi dua ofisial. Setiap anggota memiliki peran spesifik yang sudah dilatih,” ujarnya belum lama tadi.

Tak hanya itu, kunci utama dalam kategori yang berhasil ditaklukkan tersebut bukan hanya kemampuan fisik, tetapi juga pengendalian diri. “Musuh terbesar bukan medannya, tetapi kepanikan. Karena itu, anggota dilatih untuk tetap tenang, menjaga ritme napas, dan percaya pada rekan satu tim,” katanya.

Selain faktor teknis, kekompakan tim juga menjadi penentu keberhasilan di lapangan. “Kepercayaan antaranggota itu mutlak. Tanpa itu, koordinasi tidak akan berjalan dengan baik,” tutupnya. (znd/link)

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -

BERITA LAINNYA