Link, Martapura – Beberapa wilayah di Kabupaten Banjar mulai diselimuti kabut asap dampak Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup (DPRKPLH) Kabupaten Banjar memastikan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) berstatus sedang di angka 51 hingga 72.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DPRKPLH Banjar Sutiyono melalui Endang Setiawaty selaku Kepala Seksi (Kasi) Pemantauan, Pengendalian, dan Pencemaran Lingkungan DPRKPLH menjelaskan bahwa ISPU di Kabupaten Banjar masih berstatus sedang atau kualitas udara masih dapat diterima bagi kesehatan berdasarkan data stasiun Air Quality Monitoring System (AQMS) secara real-time.
“Untuk daerah yang memiliki fasilitas AQMS ini cuma enam kabupaten/kota, yakni Kabupaten Banjar, Hulu Sungai Selatan (HSS), Barito Kuala (Batola), Banjarmasin, Tabalong, dan Kota Banjarbaru. Namun, untuk AQMS Banjarbaru tengah mengalami kerusakan sehingga kita mendapatkan laporannya dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG),” ujarnya pada Selasa (1/9/2026).
Berdasarkan data AQMS secara real-time, lanjut Endang, rata-rata ISPU di Kabupaten Banjar berada pada kategori sedang dengan status warna biru. Laporannya selalu diteruskan ke Pusat Pengendalian dan Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Banjar.
“Jadi pengukurannya secara real-time, satu jam sekali,” katanya.
Meski kualitas ISPU di Kabupaten Banjar rata-rata berstatus sedang, lanjut Endang, pada 30 Agustus kualitas ISPU di Kabupaten Banjar sempat berstatus warna kuning atau tidak sehat.
“Hal itu tergantung kejadian Karhutla, tapi kondisi ini terjadi hanya selama dua jam. Seperti yang terjadi di wilayah Gambut kemarin, kualitas udaranya tidak sehat pada pukul 11.00 Wita hingga pukul 14.00 Wita. Tapi tidak sampai berstatus warna merah,” katanya.
Kabupaten Banjar belum memiliki AQMS di wilayah Sungai Tabuk untuk memantau berbagai parameter pencemar udara di wilayah Gambut dan Kertak Hanyar. Laporan ISPU untuk wilayah tersebut diperoleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banjar dari BMKG.
“Untuk wilayah Gambut, Kertak Hanyar, laporannya kita mengambil dari data BMKG, karena alat AQMS kita yang berada di depan Kantor DPRKPLH radiusnya hanya sekitar 10 sampai 20 kilometer saja. Memang kita menginginkan penambahan alat tersebut untuk diletakkan di wilayah Kecamatan Sungai Tabuk, tapi saat ini terjadi efisiensi anggaran,” katanya.
Perlu diketahui, berdasarkan data rekapitulasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjar yang disampaikan usai rapat gabungan Komisi I dan IV DPRD pada Senin (31/8/2026), total kejadian Karhutla telah tercatat sebanyak 281 kejadian dengan total luasan lahan yang terbakar mencapai 1.170 hektare di 66 desa yang tersebar di 13 kecamatan, terhitung sejak didirikannya Posko Siaga Karhutla.
Dampaknya, sejumlah wilayah di Kabupaten Banjar mulai diselimuti kabut asap tebal. Bahkan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banjar telah mencatat 4.762 warga Kabupaten Banjar terserang ISPA kategori sedang dan berat per Agustus 2026.
Menindaklanjuti kondisi tersebut, Disdik Banjar mengklaim sudah menerbitkan Surat Edaran (SE) mengenai kegiatan belajar mengajar di wilayah yang terdampak kabut asap sejak 14 Agustus 2026. Tercatat 274 satuan pendidikan atau sekolah yang terdiri dari 176 Sekolah Dasar (SD), 33 Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan 65 Taman Kanak-Kanak (TK) mengajukan PJJ dan memundurkan jam belajarnya.
“Satuan pendidikan diperkenankan untuk menerapkan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau memundurkan jam belajarnya. Tentunya dengan persetujuan Komite Sekolah dan melaporkannya kepada Dinas Pendidikan,” ujar Kepala Disdik Banjar, Liana Penny, pada Senin (31/8/2026).
Sejak diterbitkannya SE tersebut, Disdik mencatat 150 satuan pendidikan telah menerapkan PJJ, sedangkan sisanya memundurkan jam belajar mengajar. (znd/link)







