Ada Peternakan Babi di Guntung Manggis

Facebook
Twitter
LinkedIn
salah satu peternakan babi di guntung manggis

Link, Banjarbaru- Aktivitas peternakan babi di wilayah Kelurahan Guntung Manggis, Kecamatan Landasan Ulin, Kota Banjarbaru yang berdekatan dengan fasilitas umum dan pendidikan, belakangan ramai dibicarakan. Selain berdekatan dengan fasilitas pendidikan, aktivitas peternakan babi tersebut juga diduga illegal.

“Sudah lama peternakan babi di wilayah Kecamatan Landasan Ulin itu ada. Tetapi menjadi heboh karena salah satu peternakan babi ada di lokasi dekat Kampus UIN Antasari tak jauh dari  Batu Besi,” ujar warga kepada Linkalimantan.com, Rabu 15 Juni 2022.

Untuk memastikan infoprmasi tersebut, pihak Kelurahan Guntung Manggis membenarkan jika di kelurahan tersebut terdapat beberapa peternak babi.

“Ya benar, disini ada tiga lokasi peternakan babi diantaranya di Batu Besi, selanjutnya dekat Ponpes Darul Hijrah, yang ketiga itu di dekat Danau Seran,” ungkap Zikru Rahman, Lurah Guntung Manggis, Rabu (15/7/2022).

Namun, dari ketiga lokasi tersebut paling dekat dengan perkampungan adalah yang berada di dekat Ponpes Darul Hijrah dan Batu Besi. Adanya laporan mengenai, ketidaknyamanan warganya, Ia mengatakan akan segera menindak lanjuti peternakan tersebut.

Baca Juga  Sejumlah Ketua Cabor KONI Banjarbaru Panik?

“Kita maunya memang ditindak tegas, namun masih mengedepan persuasif tidak bisa serta merta langsung menyuruh pindah. Karena memang tidak ada izin peternakan, walaupun misalnya itu tanah mereka, tetap kita lihat tata ruang Kota Banjarbaru seperti apa, cocok atau tidaknya di lokasi tersebut ada perternakan,” jelasnya.

Ia pun mengatakan, dalam waktu dekat ini pihaknya akan mengunjungi peternakan yang ada fi Kelurahan Guntung Manggis. Untuk meninjau, sekaligus pendekatan dan melakukan arahan sesuai dengan perkembangan Kota Banjarbaru.

Dari penelusuran Linkalimantan.com di lapangan, disalah satu lokasi yang terjauh dari perkampungan memang terdapat peternakan babi. Namun, peternakan ini dekat dengan Gereja sementara.

“Saya ini hanya peternak tradisional, jadi saya berpikiran tidak perlu izin segala. Saya disini sudah 26 tahun beternak,” ungkap pemilik 50 ekor babi lebih ini.(wahyu/ita/BBAM)