Kalsel Salah Satu Paru-Paru Dunia

Facebook
Twitter
LinkedIn
kalsel bisa jadi salah satu paru-paru dunia

Link, Banjarmasin – Gubernur Kalsel H. Sahbirin Noor menyebut saat ini Provinsi Kalsel akan menjadi salah satu paru-paru dunia.

 

Hal itu disampaikan Paman Birin, sapaan Gubernur Kalsel ini dalam Seminar Internasional Strategi Pembangunan Hijau Untuk Kalimantan Baru pada Jumat (19/8). Paman Birin menyebut, sebelum revolusi hijau, Pemprov Kalsel hanya mampu merehabilitasi hutan sebesar 500 hektar per tahun.

 

Namun setelahnya, rehabilitasi hutan dapat dilakukan 27.000 – 30.000 hektar per tahun, mewujudkan Kalsel sebagai paru-paru dunia. Pencegahan kebakaran hutan dan lahan secara masif juga terus dilakukan agar mengurangi lahan kritis baru dan untuk mengurangi dampak efek rumah kaca yang diakibatkan emisi karbon.

 

Sejalan dengan kebijakan Presiden RI, Pemprov Kalsel memiliki Peraturan Gubernur Nomor 14 Tahun 2013 tentang Rencana Aksi Daerah Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca, yang selama ini menjadi acuan dalam pelaksanaan penurunan emisi karbon.

 

“Kami juga berkomitmen untuk pembangunan mewujudkan berkelanjutan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan melalui transformasi sektor ekstraktif menuju industri yang mengolah keanekaragaman sumber daya hayati berbasis jasa lingkungan,” ujar Paman Birin.

 

Dengan demikian lanjutnya, kegiatan pengolahan sumber daya alam di Kalsel harus dalam waktu bersamaan dengan upaya perbaikan lingkungan, seperti membangun ekosistem, yang nantinya sebagai sumberdaya ekonomi yang berkelanjutan yang tentunya untuk kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga  Pesan Paman Birin Pada Pelantikan SMSI Kalsel

 

Dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, Pemprov Kalsel juga membangun ekosistem biodeversity ekonomi dengan rencana transformasi kawasan industri berbasis keanekaragaman hayati yang memproduksi berbagai kekayaan sumberdaya hayati dan jasa lingkungan menjadi produk- produk unggulan yang memiliki nilai ekonomi tinggi yang akan menjamin keberlanjutan.

 

Saat ini sudah terbangun pabrik B30 yang telah mampu melakukan subsitusi energi fosil sebesar 810 ton/hari. Potensi investasi hijau di Kalsel sangat besar jelas Paman Birin. Berbagai pembangunan pembangkit listrik tenaga air, energi baru, pengelolaan sampah dan limbah menjadi energi terus dilakukan untuk kelestarian lingkungan.

 

“Kami menyadari bahwa dalam mewujudkan green economy atau ekonomi hijau diperlukan
intervensi teknologi yang cukup besar. Untuk itu, melalui forum ini kami juga berharap dukungan pemerintah pusat dan global untuk bersinergi mewujudkan Kalimantan sebagai pusat peradaban ekologis di Indonesia,” ujarnya. (wahyu/rill)