Jumat, April 25, 2025
BerandaLink3FMendagri: Inflasi Bulan Maret 2025 Masih Terkendali

Mendagri: Inflasi Bulan Maret 2025 Masih Terkendali

Link, Jakarta – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mengatakan, inflasi Indonesia secara year-on-year (YoY) atau tahun ke tahun per Maret 2025 terkendali.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi YoY pada Maret 2025 dibandingkan Maret 2024 tercatat sebesar 1,03 persen.

Sementara itu, inflasi bulanan (month-to-month) pada Maret 2025 dibandingkan Februari 2025 berada di angka 1,65 persen.

Hal itu  disampaikan Tito dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2025 yang dirangkaikan dengan Rakor terkait Sekolah Rakyat.

Rakor tersebut berlangsung secara hybrid dari Gedung Sasana Bhakti Praja (SBP), Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, Senin (21/4/2025).

“Ini masih situasi yang terkendali, karena target kita nasional, Indonesia, itu adalah 2,5 persen, plus minus 1 persen. Artinya, range antara 1,5 persen sampai 3,5 persen. [Inflasi] 1,03 persen masih oke, menyenangkan konsumen,” kata Tito dalam keterangan resmi,  Senin (21/4/2025).

Meski demikian, dia mengingatkan agar tetap mewaspadai dampak angka inflasi tersebut terhadap produsen, terutama petani dan nelayan. Dia menyoroti kondisi panen berlebih (oversupply) pada komoditas beras dan jagung.

Pemerintah melalui Bulog telah menetapkan kebijakan pembelian gabah kering di harga Rp6.500 per kilogram dan jagung Rp5.500 per kilogram.

“Itu cukup menggembirakan petani kalau dilaksanakan secara konsisten,” tambahnya.

Tito juga mencatat, inflasi tahunan Indonesia per Maret 2025 menempati peringkat ke-34 dari 186 negara di dunia dan termasuk dalam kategori rendah.

BACA JUGA :  Prabowo: Swasembada Kunci Pengendalian Inflasi

Sementara itu, di antara negara G20, inflasi Indonesia berada di posisi ke-5 dari 24 negara. Adapun di tingkat ASEAN, inflasi Indonesia berada di peringkat ke-5 dari 11 negara.

Namun, di tingkat regional, beberapa daerah mencatat inflasi tinggi, seperti Papua Pegunungan sebesar 8,05 persen, Papua Tengah 3,70 persen, dan Maluku 3,54 persen.

Dia menyampaikan angka ini sudah memberatkan konsumen, meski menyenangkan produsen. Namun bila produsen berasal dari luar daerah, maka yang diuntungkan justru bukan masyarakat setempat.

“Kalau 3,5 [persen] angka yang [bisa] ditoleransi, lebih dari itu hati-hati. Masyarakat sudah mulai kesulitan, di Papua Pegunungan ini gubernurnya baru, Pak John Tabo baru dilantik hari Kamis yang lalu. Nanti Ibu Ribka (Wamendagri), Pak Akmal Malik (Direktur Jenderal Otda) bisa telepon, mungkin beliau tak tahu di angka ini. Beliau baru masuk, perlu ada rapat bersama di sana,” ujar Tito.

Rakor itu  turut dihadiri secara langsung oleh Menteri Sosial Saifullah Yusuf; Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti; Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesejahteraan Sosial Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Nunung Nuryartono; Deputi II Bidang Perekonomian dan Pangan Kantor Staf Presiden (KSP) Edy Priyono; dan Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional (Bapanas) Sarwo Edhy.

BERITA TERKAIT
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA POPULER