Menjaga Kelestarian Kedepankan Kearifan Lokal

Facebook
Twitter
LinkedIn
kearifan lokal benteng kelestarian alam

Link, Meratus – Banyak pihak yang melakukan pelestarian alam, tetapi tidak banyak yang mengedepankan kearifan lokal dalam pelestarian itu sendiri.

Pegunungan Meratus yang berada di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan (Kalsel), bisa jadi merupakan satu-satunya bagian Meratus yang minim eksploitasi. Kendati degradasi lingkungan tetap tak terhindarkan. Kearifan lokal menjadi salah satu pilar yang hingga kini tetap terjaga.

“Bukan rahasia umum lagi kalau kelestarian plasma nuftah di kawasan Pegunungan Meratus sudah banyak yang berkurang. Tetapi tidak banyak pihak yang terjun langsung ke lapangan untuk melakukan tindakan pelestarian,” ungkap Ali Fahmi, Ketua DPD Partai Masyumi Kabupaten HST, kepada Linkalimantan.com, Minggu 28 Agustus 2022.

Kendati demikian, Ali tidak menampik jika ada beberapa kelompok masyarakat yang sudah memberikan sumbang sih dan perhatian besar di sana.

“Banyak sekali riset, advokasi hingga gerakan pengamanan kawasan Meratus di Kabupaten HST yang tujuannya agar Meratus tidak diekploitasi berlebih. Nah itu semua hasilnya akan semakin maksimal dengan melibatkan masyarakat yang memiliki kearifan lokal,” katanya.

Kami ungkap Ali, beberapa bulan ini juga melakukan kegiatan yang bertujuan kelestarian alam berbasis kearifan lokal.

“Turun langsung ke lapangan sambil membawa bibit-bibit tanaman perkebunan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Salah satunya bibit kopi yang kami bawa,” ungkapnya.

Baca Juga  Hari Pangan Sedunia Walhi Suarakan Keprihatinan

Mengapa kopi? “Tanaman kopi ini sudah tidak asing lagi bagi masyarakat di sana. Bahkan menurut mereka kopi menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya dan kearifan masyarakat dalam keseharian,” kata sambil tersenyum.

Mantan pejabat Pemkab HST ini pun mengaku apa yang dilakukan kelompoknya sudah mendapat sambutan sangat positif dari masyarakat.

“Alhamdulillah, sudah ada beberapa kampung di Meratus yang sangat antusias untuk menanam kopi,” ujarnya.

Lebih menggembirakan lagi ungkapnya lebih lanjut, keterlibatan masyarakat dalam menanam kopi bukan hanya dari kalangan orang tua. Muda-mudi juga bersemangat untuk menjaga kelestarian alam mereka melalui gerakan menanam kopi.

“Tanaman kopi bagi kami sudha tidak asing lagi. Tetapi hasilnya hanya cukup untuk konsumsi pribadi. Karena jumlah pohonya juga relatif sedikit dan tidak dibudidayakan secara khusus,” ujar Siwan, warga Desa Batu Kambar pegunungan Meratus.

Siwan mengaku apa yang dilakukan kelompok Ali Fahmi sangatlah positif. Apalagi masyarakat diberi pemahaman tentang untung ruginya berkebun kopi.

“Terutama soal keuntungan yang didapat. Selain alam menjadi terjaga dari kegiatan eksploitasi, hasilnya juga memberikan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat,” katanya. (spy)