SK Rehabilitasi Rumah Belum Disahkan

Facebook
Twitter
LinkedIn
rumah tidak layak di limamar

Link, Martapura – Surat keputusan (SK) rehabilitasi lima rumah warga di Desa Limamar, Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar belum disahkan bupati.

Rehabilitasi lima unit rumah warga Desa Limamar sejauh ini belum juga dilaksanakan. Kendalanya SK Rehabilitasinya belum ditandatangani Bupati Banjar H Saidi Masyur.

Hal itu diungkapkan Dedi Irawan, pejabat di Dinsos Banjar yang semula menangani hal itu dan baru baru ini telah dipindah tugaskan.

“Prosesnya lumayan panjang. Nah saat ini sudah pada proses puncaknya yakni disahkannya SK rehabilitasi untuk rumah tidak layak huni. Semoga tahun ini juga hal itu bisa direalisasikan,” ungkap Dedi kepada sejumlah pewarta, Senin 15 Agustus 2022.

Lima rumah di Desa LImamar tersebut ungkap Dedi, masuk dalam Program Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni (RS Rutilahu).

Sementara itu, Ketua DPRD Banjar HM Rofiqi saat dimintai koementarnya menyatakan dirinya akan mendatangi warga yang rumahnya tidak layak tersebut.

“Saya akan datang ke sana. Jika memang warga ini perlu dibangunkan rumah, saya akan bangunkan rumahnya,” ujarnya.

Kendati demikian, politisi Partai Gerindra ini mengaku heran mengingat Kabupaten Banjar merupakan daerah yang mendapatkan penilaian bagus dalam mengunarangi angkat kemiskinannya di Indonesia. Namun kenyataan di lapangan masih banyak masyarakat yang hidup digaris kemiskinan.

Baca Juga  Atlet Karate Banjar Laporkan Oknum TNI ke Denpom

“Inikan jelas-jelas anomaly. Data di atas kertak bagus, namun di lapangan masih banyak warga yang berada digaris kemiskinan,” ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, satu keluarga beranggota 7 orang mendiami sebuah gubuk berdinding papan campur terpal dan beratapkan daun plus terpal berada di Desa Limamar, Kecamatan Astambul Kabupaten Banjar. Mereka hidup dalam keadaan serba kekurangan ditambah tidak memiliki mata pencarian tetap.

“Alhamdulillah, sampai saat ini kami masih bisa bertahan. Meski pun harus menghadapi kondisi seperti ini,” ujar Muhammad Rizky anak pertama Saiful, dari empat bersaudara .

Dalam kesehariannya, Rizky bercerita orang tuanya menghidupi keluarga dengan cara mencari keroto di hutan sekitar. Hasil cariannya kemudian dijual ke pengepul.

“Hasil itulah yang digunakan abah untuk menghidupi kami. Dapat sehari habis untuk kebutuhan hidup sehari,” ungkapnya.

Kini anak sulung ini ikut serta membantu orang tuanya untuk mencari keroto yang sangat bergantung dengan kondisi cuaca. Jika hari hujan maka pekerjaan itu tidak bisa dilakukan. Dengan begitu, keluarga yang mendiami gubuk tak layak ini pun harus bertahan seadanya.(spy)