BerandaSosial BudayaLink Health4.762 Warga Terserang ISPA, Stok Masker Dinkes Banjar Tak Cukupi Kebutuhan Masyarakat

4.762 Warga Terserang ISPA, Stok Masker Dinkes Banjar Tak Cukupi Kebutuhan Masyarakat

Link, Martapura – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banjar mencatat 4.762 warga terserang infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) kategori sedang dan berat hingga Agustus 2026 akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sekitar 100.000 pelajar di Kabupaten Banjar juga ikut terdampak kabut asap akibat karhutla.

Pernyataan tersebut diungkapkan Kepala Dinkes Kabupaten Banjar, Noripansyah, saat menghadiri Rapat Gabungan Komisi I dan Komisi IV DPRD bersama pemangku kepentingan terkait pengawasan dan evaluasi penanganan karhutla di daerah pada Senin (31/8/2026).

RAPAT GABUNGAN : Kepala Dinkes Kabupaten Banjar, Noripansyah, saat menghadiri Rapat Gabungan Komisi I dan Komisi IV DPRD bersama pemangku kepentingan terkait pengawasan dan evaluasi penanganan karhutla di daerah pada Senin (31/8/2026).

“Hingga Agustus, yang terdampak ISPA kategori sedang dan berat sebanyak 4.762 warga, sedangkan yang terserang ISPA kategori ringan tidak melapor. Dari sudut pandang kesehatan, adanya karhutla ini tentunya semua terdampak,” ujarnya.

Menanggulangi permasalahan tersebut, Noripansyah memastikan Dinkes Banjar telah melakukan pemantauan kasus ISPA hingga membuat surat imbauan yang diteruskan ke UPTD Puskesmas hingga Pemerintah Desa (Pemdes), serta memberikan edukasi melalui kegiatan sosialisasi yang berkoordinasi dengan pihak terkait lainnya.

BACA JUGA :  Diduga Terkena Serangan Jantung, Anggota DPRD dari Fraksi Golkar Meninggal Dunia Dalam Perjadin

“Berdasarkan pemantauan, kebutuhan logistik dan sarana prasarana pelayanan kesehatan memang menjadi kendala. Jumlah masyarakat kita saat ini kurang lebih 600.000 jiwa, dan 62.000 di antaranya merupakan peserta didik di bawah naungan Dinas Pendidikan (Disdik) dan 31.000 peserta didik di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag). Jadi, hampir 100.000 peserta didik di Kabupaten Banjar terdampak kabut asap karhutla,” katanya.

Di sisi lain, Noripansyah menjelaskan bahwa penanganan awal untuk mencegah ISPA adalah dengan mengenakan masker guna menghindari terhirupnya asap akibat karhutla. Namun, stok masker yang tersedia di Dinkes Banjar hanya berada di angka 25.000 Pcs atau sekitar 500 boks, dengan setiap boks berisi 50 masker, dan diprediksi hanya dapat memenuhi kebutuhan sekitar dua hari saja.

“Kalau semuanya harus diberikan masker, jumlah yang tersedia di Dinkes saat ini tentunya tidak mencukupi. Artinya, Dinkes tidak sanggup memenuhi kebutuhan masker untuk masyarakat. Selain itu, harga masker di tengah bencana kabut asap saat ini tentunya juga meningkat dari harga biasanya yang hanya berkisar di Rp20.000,” akunya.

BACA JUGA :  Tata Ulang Aset PPS Martapura, DPRD Banjar Akan Bentuk Pansus

Tak hanya soal ketersediaan masker yang diestimasikan bakal menggelontorkan dana minimal Rp33 juta jika kebutuhan per harinya 1.500 boks, Noripansyah juga meminta dukungan anggaran dari DPRD Kabupaten Banjar untuk pengadaan obat-obatan hingga vitamin guna mencegah kasus ISPA kian meningkat di tengah bencana karhutla.

“Kalau masih memungkinkan diusulkan di APBD Perubahan, maka akan kita usulkan. Sebab, kalau menggunakan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT), syaratnya harus ada pernyataan peningkatan status dari siaga darurat menjadi tanggap darurat bencana dari pemerintah. Jika bencana karhutla berlangsung hingga Februari, tentu stok obat-obatan dan vitamin yang ada tidak mencukupi, terlebih kemarau ekstrem berpotensi meningkatkan kasus diare,” pungkasnya. (znd/link)

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

BACA JUGA