Hubungan Sejenis Memicu Munculnya HIV/AIDS?

Facebook
Twitter
LinkedIn
HIV bertumbuh di banjarbaru

Hubungan Sejenis Memicu Munculnya HIV/AIDS?

Link, Banjarbaru – Hubungan sejenis diduga menjadi pemicu utama adanya pasien baru dengan penderita HIV/AIDS di kota Banjarbaru.

 

Sejak Januari hingga Agustus 2022, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Banjarbaru mendeteksi ada sepuluh pasien baru HIV/AIDS. Bertumbuhnya kasus penderita penyakit mematikan tersebut diduga berkaitan erat dengan perilaku hubungan sejenis.

 

 

Hal tersebut diungkapkan Sekretaris KPA Kota Banjarbaru Edi Sampana kepada Linkalimantan.com, Selasa (30/8/2022).

 

“Hubungan sejenis ini agak mudah kami menemukan. Jika ada satu yang terdeteksi maka kami minta dia untuk mengajak temannya ke tempat tes,” tuturnya.

 

Menurut Edi, hubungan sesama jenis ini lebih rentan terinfeksi HIV karena tak ada pelumas yang dihasilkan dalam seks tersebut.

 

“Kalau dengan wanita, itu ada pelumas yang dihasilkan dari si perempuan,” ucapnya.

 

Maka dari itu, Edi berpesan jika memang hal tersebut tidak bisa dihindarkan lagi, maka berhubungan harus dilakukan dengan menggunakan kondom atau pengaman.

Baca Juga  Dulu Hanya Tikar dan Bakul Dijual ke Martapura, Kreasi Purun Warga Palam Kini Tembus Pasar Luar Negeri

 

Edi menjelaskan, pengidap HIV di Banjarbaru masih banyak. Diestimasi di Banjarbaru terdapat sekitar 1.000 orang teridap HIV/AIDS, tapi yang berhasil dideteksi sekitar 400 orang saja.

 

“Karena sejak pandemi, kami belum maksimal dalam melakukan penyuluhan dan tes HIV pada orang yang beresiko tinggi. Jadi masih 600 pasien yang belum terdeteksi,” ucapnya.

 

Sementara untuk data per Kecamatan, kata Edi, agak susah memilahnya karena kebanyakan pengidap tersebut adalah mobile.

 

“Yang artinya 50 persen bukan penduduk asli. Sehingga kami tidak merasa perlu untuk mengelompokkan berdasarkan kecamatan,” tuturnya.

 

Kemudian, sambung Edi, penyakit mematikan ini merupakan faktor perilaku. Walaupun di kecamatannya agamis tapi mungkin saja warganya bisa tertular dari tempat lain.

 

Karena itu, kata Edi, Dinkes Kota Banjarbaru harus aktif melakukan skrining atau tes cepat pada populasi risiko tinggi untuk mendeteksi sedini mungkin. (juwita/BBAM)