Link, Martapura – Seluas 16 hektare lahan perkebunan produktif terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sedangkan 1.535,4 hektare lahan tanaman pangan dan hortikultura di Kabupaten Banjar terdampak kekeringan akibat cuaca ekstrem.
Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Banjar, Warsita melalui Kepala Bidang (Kabid) Perkebunan, Abdul Basyid mengatakan, berdasarkan data sementara yang diperoleh dari 32 Kelompok Tani Peduli Api (KTPA) per 31 Agustus, tercatat seluas 16 hektare lahan perkebunan produktif terdampak karhutla.
“Total luas lahan perkebunan produktif yang terdampak karhutla mencapai 16 hektare,” ujarnya, Kamis (3/9/2026).
Peristiwa kebakaran lahan perkebunan tersebut, lanjut Basyid, terjadi di beberapa desa di Kabupaten Banjar, yakni Desa Awang Bangkal, Kecamatan Karang Intan; Desa Pematang Danau, Kecamatan Astambul; dan Desa Alalak Padang, Kecamatan Cintapuri Darussalam.
“Di Desa Awang Bangkal, tercatat seluas 3 hektare lahan perkebunan karet, durian, dan jambu mete hangus terbakar. Di Desa Pematang Danau, seluas 10 hektare lahan perkebunan sawit rakyat terbakar, sedangkan 3 hektare perkebunan sawit rakyat serta pisang di Desa Alalak Padang hangus terbakar,” katanya.
Basyid juga memastikan Bidang Perkebunan segera mengumpulkan KTPA pekan ini untuk melakukan pemutakhiran dan verifikasi data. Terlebih, pihaknya sudah melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi dan mencegah terjadinya kebakaran lahan perkebunan setiap tahun.
“Kami selalu melaksanakan kegiatan sosialisasi dan memasang spanduk imbauan dilarang membuka lahan dengan cara membakar. Sebagai upaya mitigasi, Dinas Pertanian juga memfasilitasi Kelompok Tani (Poktan) dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dengan meminjam-pakaikan mesin alkon lengkap dengan selangnya sebagai upaya pemadaman untuk mencegah kebakaran lahan perkebunan,” ucapnya.
Sementara itu, Kabid Sarana Tanaman Pangan dan Hortikultura, Perkebunan, dan Peternakan Distan Banjar, Nurul Chatimah, menjelaskan bahwa Dampak Perubahan Iklim (DPI), selain menyebabkan kebakaran lahan, juga mengakibatkan tanaman pangan dan hortikultura mengalami kekeringan.
“Berdasarkan laporan dari Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) pada 2 September, seluas 1.535,4 hektare lahan tanaman padi dan hortikultura di 11 kecamatan terdampak kekeringan. Namun, untuk pembaruan data secara rinci, akan dilakukan Jumat besok,” katanya.
Sebanyak 11 kecamatan yang terdampak kekeringan tersebut yakni Kecamatan Martapura Timur, Beruntung Baru, Tatah Makmur, Martapura Barat, Astambul, Sungai Tabuk, Martapura, Kertak Hanyar, Simpang Empat, dan Pengaron. Sejumlah lahan di antaranya sudah terdata mengalami puso.

“Untuk kategori tanaman tersebut, apakah puso atau tidak, kami masih menunggu hasil penetapan secara bertahap dari POPT Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH). Sedangkan untuk tanaman yang terdampak kebakaran, sifatnya vegetatif sehingga tidak semuanya dikategorikan puso,” tuturnya.
Untuk mengatasi permasalahan tanaman padi dan hortikultura yang puso akibat kebakaran lahan dan kekeringan yang dihadapi para petani, Distan Banjar akan menanganinya melalui program Optimalisasi Lahan (OPLAH). Program tersebut telah diusulkan untuk pengadaan benih pada Oktober 2026 mendatang untuk lahan seluas 6.800 hektare yang tersebar di delapan kecamatan.
Selain itu, penanganan juga dilakukan melalui program Pertanian Modern – Advanced Agriculture System (PM-AAS), yakni sistem budidaya padi intensif berbasis teknologi modern yang dikembangkan untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi biaya, dan mekanisasi penuh pada usaha tani di 18 kecamatan di Kabupaten Banjar. (znd/link)







