NASA Ungkap Fakta Baru Palnet Jupiter

Facebook
Twitter
LinkedIn
jupiter planet terbesar di tata surya

PENELITI NASA menemukan fakta terbaru soal planet paling besar di Tata Surya, Jupiter, yang diduga tumbuh besar memangsa planet-planet kecil di sekitarnya. Temuan tersebut berasal dari pandangan cukup jelas tentang material kimia di bawah atmosfer luar Jupiter yang berawan.
Dilansir id.wikipedia.org,  Yupiter adalah planet terdekat kelima dari Matahari setelah Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars. Planet ini juga merupakan planet terbesar di Tata Surya. Jupiter merupakan raksasa gas dengan massa seperseribu massa Matahari dan dua setengah kali jumlah massa semua planet lain di Tata Surya.

Planet ini dan raksasa gas lain di Tata Surya (yaitu SaturnusUranus, dan Neptunus) kadang-kadang disebut planet Jovian atau planet luar. planet ini telah dikenal oleh para astronom sejak zaman kuno,[12] dan dikaitkan dengan mitologi dan kepercayaan religius banyak peradaban. Bangsa Romawi menamai planet ini dari dewa Jupiter dalam mitologi Romawi. Saat diamati dari Bumimagnitudo tampak Jupiter dapat mencapai −2,94, yang cukup terang untuk menghasilkan bayangan, dan juga menjadikannya objek tercerah ketiga di langit malam setelah Bulan dan Venus, walaupun Mars dapat menyaingi kecerahan Jupiter pada saat tertentu.

Sejauh ini, hanya sedikit yang diketahui dari planet yang berstatus sebagai yang terbesar di Tata Surya ini. Teleskop menangkap ribuan gambar pusaran awan yang berputar-putar di atmosfer atas gas raksasa itu, tetapi pemandangan bagian dalamnya tidak terungkap karena badai yang menghalangi.
“Jupiter adalah salah satu planet awal yang terbentuk di Tata Surya kita,” kata Yamila Miguel, peneliti astrofisika di Universitas Leiden yang memimpin penelitian ini.

Dilansir Live Science, Miguel menyebut hampir tidak ada yang diketahui soal bagaimana planet tersebut terbentuk.
Pada studi terbaru tersebut para peneliti akhirnya mampu mengintip melewati tutupan awan Jupiter menggunakan data gravitasi yang dikumpulkan wahana antariksa Juno NASA. Data ini memungkinkan tim memetakan material berbatu di bagian inti planet raksasa, yang mengungkapkan kelimpahan elemen berat yang sangat tinggi.
Kemudian susunan kimiawi yang ditemukan menunjukkan planet terbesar tersebut melahap planet-planet kecil atau yang biasa disebut planetesimal untuk mendorong pertumbuhannya yang ekspansif.
Jupiter adalah sebuah bola gas besar, tetapi planet ini tetap mengawali masa hidupnya dengan mengumpulkan material berbatu, seperti umumnya planet-planet lain di Tata Surya.
Gravitasi planet ini terus menerus menarik material batu ke bagian inti sehingga membuatnya sangat padat. Kemudian barulah planet ini menarik gas dalam jumlah besar, bahkan gas yang jaraknya sangat jauh akhirnya membentuk atmosfer planet tersebut.
Gas yang banyak ditarik Jupiter adalah hidrogen dan helium sisa dari pembentukan Matahari.
Dijelaskan Space, ada dua teori yang bersaing tentang bagaimana Jupiter berhasil mengumpulkan material batuan. Satu teori menyebut Jupiter mengumpulkan miliaran batuan ruang angkasa yang lebih kecil, yang oleh para astronom disebut kerikil (meskipun batu-batu ini kemungkinan berukuran lebih dekat dengan batu daripada kerikil yang sebenarnya).
Teori lainnya didukung temuan dari studi baru itu yang menyebut inti Jupiter terbentuk dari penyerapan banyak planetesimal atau batuan ruang angkasa besar yang membentang beberapa kilometer.
Batuan ini jika dibiarkan tidak terganggu berpotensi berkembang menjadi benih dari planet-planet berbatu yang lebih kecil seperti Bumi atau Mars.(spy/bbs)

Baca Juga  Tahun 2022 Dipastikan Tahap II Jembatan Desa Handil Baru Terlaksana