Rofiqi: Stunting Tinggi Jangan Salahkan Ikan Asin

Facebook
Twitter
LinkedIn
Rifiqi kritisi stunting tinggi

Link, Martapura –  Upaya keras sudah dilakukan untuk menekan angka stunting di Kabupaten Banjar. Namun hasilnya, daerah ini menempati urutan tertinggi kasus stunting di wilayah Kalimantan Selatan.

Dimana Kabupaten Banjar berada diurutan angka tertinggi kasus stunting di Kalsel dengan prevalensi 40,2 persen menyusul beberapa wilayah seperti Barito Kuala, Tapin dan Balangan yang diketahui juga berada di atas kisaran 30 persen.

Hal itu terungkap dalam acara audiensi di Aula Barakat Setdakab Banjar bersama Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Banjar dan Provinsi Kalsel.

Menyikapi hal itu, Ketua TP PKK Kabupaten Banjar Nurgita Tyas menyampaikan salah satu alasan pemicu keberadaan stunting di wilayahnya, karena masih banyak masyarakat yang mengonsumsi ikan asin ketimbang komoditi segar.

“Di daerah pesisir Aluh-Aluh padahal mayoritas pekerjaan mereka nelayan yang dengan mudah mendapatkan ikan segar. Namun, fakta di lapangan saya melihat ada kebiasaan masyarakat untuk mengawetkan ikan dan mengonsumsinya tanpa ada nilai gizinya lagi,” ucapnya.

Bersamaan itu, ia siap berkomitmen untuk menurunkan prevalensi kasus di Kabupaten Banjar dengan meminta dukungan serius dari berbagai instansi terkait.

Mendengar penyataan tersebut, kontan Ketua DPRD Kabupaten Banjar HM Rofiqi geleng-geleng kepala.

“Jangan salahkan masyarakat makan ikan asin, menurut saya tingginya angka di Kabupaten Banjar karena salah urus. Bukan karena makan ikan asin,” ujarnya, Jumat 15 Juli 2022.

Terang-terangan Rofiqi mengaku terkejut dan sekaligus prihatin. Karena didaerahnya peringkat pertama dan bahkan berada di zona merah stunting di Kalsel.

“Dengan data seperti ini ia meminta pihak yang mengurus kesehatan masyarakat, khususnya perbaikan gizi pada Balita bekerja dengan baik dan tepat sasaran,” katanya.

Baca Juga  Gubernur Kalsel Menerima Penghargaan Kemenkes

Rofiqi menduga mereka yang mengurus persoalan pencegahan stunting di Kabupaten Banjar tidak memahami tugasnya, sehingga angka di daerahnya melambung tinggi.

Bukan hanya itu saja, bahkan Kabupaten Banjar berada di peringkat pertama di Kalimantan Selatan kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi di bawah 5 tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis, sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan pada masa awal setelah bayi lahir akan tetapi, kondisi stunting baru nampak setelah bayi

“Saya berpikir jangan-jangan mereka yang mengurus pencegahannyatidak paham cara mengatasi persoalan ini. Aneh dan lucu rasanya, jika ada data yang menyebutkan angka kemiskinan di Kabupaten Banjar paling bagus di Kalsel, yakni turun, tetapi berbanding terbalik dengan angkanya justru naik,” jelasnya

Menurut Rofiqi, kemarin ia membaca berita di salah satu media salah satu “pejabat” garis depan mengatakan, bahwa tingkat Kabupaten Banja tinggi, karena masyarakat masih mengkonsumsi ikan asin.

” Saya kira itu statemen konyol, karena yang bersangkutan dilihat dari konteks jawabannya jelas tidak paham dan tidak menguasai permasalahan penyebab tingginya angka ,” tegasnya.

Politisi muda Partai Gerindra ini menyatakan, seharusnya kita semua malu, ketika ditetapkan sebagai peringkat pertama stunting di Kalsel, bahkan nasional. Padahal Kabupaten Banjar dikenal kaya dengan sumber daya alam, tetapi gizi Balitanya rendah .(spy)