BerandaHeadlineKarhutla Banjar Capai 286 Kejadian, Waduk Riam Kanan Mulai Alami Penyusutan Debit

Karhutla Banjar Capai 286 Kejadian, Waduk Riam Kanan Mulai Alami Penyusutan Debit

Link, Martapura – Sejak ditetapkan Status Siaga Darurat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) pada 15 Juli 2026 lalu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah mencatat 286 kejadian Karhutla dengan luasan sekitar 2.000 hektare hutan dan lahan terbakar.

Menanggulangi permasalahan tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banjar melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) serta para relawan guna memperkuat sinergi penanganan bencana Karhutla dan krisis air bersih di salah satu resor yang ada di Kecamatan Karang Intan, Rabu (9/9/2026).

Sebab, berdasarkan data terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau diprediksi berlangsung panjang hingga awal 2027. Kondisi tersebut tentunya berdampak terhadap krisis air bersih dan kesehatan masyarakat.

Mewakili Bupati Banjar H Saidi Mansyur, Sekretaris Daerah (Sekda) Banjar H Yudi Andrea juga menyebutkan kondisi terkini debit air di Waduk Riam Kanan, Kecamatan Aranio, yang berfungsi sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), pemasok air baku perusahaan air minum, irigasi pertanian, dan budidaya ikan tawar, telah mengalami penyusutan.

RAKOR MITIGASI BENCANA: Pemkab Banjar melalui Bakesbangpol menggelar Rapat Rakor bersama unsur Forkopimda serta para relawan guna memperkuat sinergi penanganan bencana Karhutla dan krisis air bersih di salah satu resor yang ada di Kecamatan Karang Intan, Rabu (9/9/2026). (Foto: MC.Kab Banjar)

“Hari ini kita melakukan evaluasi terkait kegiatan yang telah dilaksanakan sejak penetapan Status Siaga Darurat dan mengumpulkan informasi selama pelaksanaan penanganan. Kita juga membahas mitigasi dampak musim kemarau terhadap kesehatan, sosial, ekonomi, dan lingkungan,” ujarnya.

BACA JUGA :  Kemarau Panjang Diprediksi, Enam Kecamatan Jadi Prioritas Penanganan Karhutla

Yudi Andrea juga mengungkapkan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan mengenai kondisi cuaca, khususnya terkait kekeringan.

“Dari informasi BMKG, bencana kekeringan tidak sampai ke tahun 2027, tapi hanya efek El Nino saja. Jadi, angin kering yang akan berdampak terhadap cuaca kita ini sampai awal tahun 2027,” jelasnya.

Berdasarkan informasi tersebut, papar Yudi Andrea, puncak kekeringan diprediksi terjadi pada September, dan kondisi tersebut diperkirakan akan berangsur turun pada Oktober 2026. “Pada November diperkirakan memasuki musim hujan,” katanya.

Yudi Andrea juga menjelaskan, Pemkab Banjar memastikan ketersediaan air baku tetap aman. Berdasarkan informasi pengelola Waduk Riam Kanan, stok air baku diperkirakan cukup hingga Desember. Bahkan, BPBD Banjar akan terus mendistribusikan air bersih ke sejumlah wilayah yang terdampak kekeringan dan krisis air bersih.

“Saya juga meminta para camat agar tidak lelah untuk terjun langsung berdialog dengan petani dan mengedukasi masyarakat agar mengelola lahan tanpa membakar. Begitu juga Dinas Kesehatan, kami sudah menginstruksikan untuk mengantisipasi kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat paparan kabut asap dengan memastikan ketersediaan masker di wilayah yang paling terdampak,” ungkapnya.

BACA JUGA :  Bupati Ingatkan Tiga Hal Utama Dalam Upaya Penguatan Literasi dan Pengelolaan Arsip di Daerah

Dalam Rakor tersebut, Reza Permana selaku Manager Unit Pembelajaran Pusat Listrik Tenaga Air/Diesel (UPPLTAD) Gunung Bamega memastikan PLTA Riam Kanan telah melakukan serangkaian langkah penghematan cadangan air bendungan guna menangani ancaman kemarau panjang. Langkah antisipasi ini telah dijalankan sejak awal Juli lalu dengan mengurangi operasional mesin dari dua unit menjadi satu unit.

“Sedimen Riam Kanan tercatat tidak mendapatkan aliran air masuk (inflow) dari sungai selama lebih dari 40 hari akibat minimnya curah hujan. Karena itu, kami sejak awal Juli sudah melakukan penghematan, dari yang sebelumnya mengoperasikan dua unit menjadi satu unit sebagai upaya mengoptimalkan cadangan air agar tetap bertahan sampai November hingga awal Desember mendatang,” ucapnya.

Meski terjadi penurunan debit keluaran (outflow) menjadi kisaran 12 hingga 13 meter kubik per detik, Reza menjelaskan bahwa ketersediaan pasokan air baku untuk Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) bagi masyarakat tetap terpenuhi secara optimal. (znd/link)

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

BACA JUGA