Senin, Maret 4, 2024

Kota Serambi Makkah Bukan Sekadar Julukan (3-Habis)

Bismillahirohmannirrohim

Ratusan tahun silam, Tuan Syekh Kalampayan telah menamai Kota Martapura dengan nama Serambi Makkah. Dimana salah satu poin penting adalah menempatkan guru / ulama pada posisi terdepan dalam segala urusan. Salah satunya dalam membangun negeri dengan julukan Serambi Makkah.

Kota Serambi Makkah Bukan Sekadar Julukan (bag-3)

SAPARIYANSYAH, BUDAYAWAN SPIRITUAL

Mencari yang Hilang, Memelihara yang Terlupakan

Pada tulisan bagian-2 semangat membangun negeri sangat kental dalam ajaran yang disampaikan para pendiri negeri. Hal itu sangat jelas tersampaikan melalui hakikat dalam memaknai Kota Serambi Mekah dengan menempatkan guru / ulama pada posisi terdepan dalam segala urusan. Termasuk dalam mewarnai jalannya roda pemerintah di Kota Serambi Makkah yang dikenal dengan konsep Ulama – Umaro.

Nah, kalau sudah begitu maka perlu ada tarbiyah wathoniyah. Perlu adanya pendidikan untuk dikenalkan mengenai cintai negeri yang ditinggali. Dalam hal kontek ini tentu saja Kota Serambi Makkah.

Ingat jangan sekali-kali mengaku sebagai bagian dari masyarakat negeri yang menyandang julukan Serambi Makkah kalau hanya acuh tak acuh melihat keadaan negeri. Tidak ada sikap lain selain mau berjuang untuk berbuat sesuatu pada negrinya.

Karena apa? Tidak ada alasan lain kecuali hanya ingin selamat sebagai penduduk dunia yang bukan hanya bersifat fana, tempat fitnah saja. Tetapi dunia juga merupakan pasar.

Apabila dunia ini merupakan pasar yang besar, maka di pasar itu pasti ada transaksi yang ujungnya untung atau rugi. Artinya gambaran ini mengajarkan dan mengingatkan kepada kita bahwa ada manusia merugi dan berarti ada manusia yang untung.

Namanya juga pasar, tentu kita akan memasuki pasar untuk rekreasi. Memasuki pasar berarti ada tujuan berbisnis, karena pasar tempat orang berniaga. Dalam berniaga, pasti memerlukan modal. Dalam berniaga ada untung dan rugi. Itu lazim dan lumrah.

Baca Juga  Mengejar Duniawi Penderitaan yang Didapat

Apabila kita anggap dunia ini pasar, kita harus dan berbisnis dengan Allah. Maka kita akan   bertanya-tanya: ‘apakah Allah pernah memberikan modal pada kita. Sehingga kita disuruh bekerja dan kita jadikan dunia ini tempat lahan kita, pasar kita untuk bekerja

Kalau kita bertanya; pernahkan Allah memberikan kita modal? Jawabannya: IYA!!!. Dan modal yang paling indah, modal paling mulia, modal paling berharga, modal yang paling bernilai yang Allah berikan kepada kita adalah kehidupan (umur). Umur ini adalah merupakan modal yang paling besar;

Kalau sudah begini, beruntungkan mereka yang hidup di negeri yang bernama Serambi Makkah. Dimana Tuan Shekh Kelampaiyan menjadi negeri ini sarat dengan nilai-nilai Agama Islam yang dikemas apik dalam kultur budaya.

Melestarikan apa yang dilandaskan Tuan Shekh Kelampaian ratusan silam jelas bukan hanya sekadar membuat beliau senang, tetapi tanpa disadari jika kita juga sekaligus telah berniaga dengan Allah. Dalam artian modal yang telah diberikan benar-benar kita niagakan berdasarkan ajaran Islam.

Kita juga sudah menyaksikan ratusan tahun setelahnya, bagaimana Tuan Shekh Sekumpul telah menghidupkan sendi-sendi kultur budaya masyarakat Kota Serambi Makkah yang mendudukkan guru/ulama sebagai rujukan.

Kalau sudah tahu ini semua, masih ingin acuh tak acuh melihat kondisi negeri ini? Ingat-ingat para pembaca budiman, dunia ini tempat berniaga dengan Sang pemilik modal. Dalam perniagaan banyak pilihan lapak yang tersedia. Salah satunya adalah mencintai tanah air. Karena itu sebagian dari iman.

Wassalam

Afwan

BERITA POPULER