Senin, Maret 4, 2024

Masa Muda Masa Keemasan Membangun Negeri

Bismillahirmannirahim

Baik, setelah di beberapa tulisan lalu saya mengajak pembaca memahami apa itu dunia, kini menjadi sangat penting untuk memaknai perniagaan kita yang kelak akan diminta pertanggungjawabannya. Utamanya dimasa muda atau masa keemasan sebagai manusia.

SAPARIYANSYAH, BUDAYAWAN SPIRITUAL

Mencari yang Hilang, Memelihara yang Terlupakan

Pada sesi kali ini, saya akan mengajak pembaca untuk merenung sejenak kita sebagai pemuda sejauh mana dalam meniagakan modal yang telah kita miliki.

Massa muda sebenar-sebenarnya merupakan masa yang sangat istimewan. Bahkan masalah ini dikupas secara detail dalam Kitabullah. Diantaranya dalam Surat Ar-Rum 54.

“Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat. Kemudian dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan berubah. ia menciptakan apa Yang Dia kehendak dan Dia Maha Mengetahui”.

Nah, saat kita sedang menghadapi dan mengalami serta pemilik masa kekuatan diantara masa kelemahan. Masa kelemahan yang pertama telah kita lewati dan masa kelemahan yang satunya  kelak akan sampai pada kita.

Menjadi sangat sederhana. Karena apabila masa pemuda yang disebut oleh Allah Swt sebagai masa kekuatan diantara dua kelemahan, maka masa muda adalah masa terindah yang dimiliki dalam kehidupan (modal) dan termahal karena di masanya la memiliki kekuatan.

Kalau sudah begini, masih ada yang ingin menyia-nyiakan modal yang melekat pada diri kita? Ingat! Medan laga untuk meniagakan masa muda itu sudah ada di hadapan mata. Dalam hal perspektif ini tentu saja menjalankan apa yang sudah dipondasikan para pendiri negeri ini yakni membangun Kota Serambi Makkah

Sekiranya saya perlu menyampaikan kembali dalam hidup dan kehidupan masyarakat Serambi Makkah, seluruh aspek didasarkan dengan ajaran Islam. Tentu saja dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sebagai warga negara yang baik harus menempatkan NKRI harga mati.

Baca Juga  Kota Serambi Makkah Bukan Sekadar Julukan (3-Habis)

Menjadikan Kota Serambi Makkah sebagai tempat untuk berniaga itu mulia. Utamanya bagi kita para pemuda sebelum memasuki masa kelemahan kedua.

Kalau kata seorang teman, untuk bisa turut serta membangun Serambi Makkah itu sudah sangat mudah. Katalognya sudah ada. Bahkan saat Tuan Syekh Sekumpul masih ada, semua berjalan sangat apik.

“Sangat..sangat apik. Semua aspek kehidupan berjalan begitu indah. Roda pemerintahan berjalan dengan baik. Begitu juga ditingkat lapisan masyarakat paling bawah, semua berjalan dengan apik. Pendeknya umur tak jadi ukuran. Hanya semangat muda yang tampak,” begitu kawan saya yang seorang mantan birokrat itu bercerita.

Sayang, begitu Tuan Syekh sudah tidak ada, apa yang sudah dihidupkan itu mulai longgar kembali. Money politik, korupsi, hingga tak lagi menjadikan ulama/guru sebagai rujukan kian terlihat nyata.

Seakan keloyoan yang ada. Entah kemana semangat muda, utamanya bagi mereka yang berada di antara masa kelemahan. Bahkan tidak sedikit yang berkata, “Tiada daya menghadapi kondisi seperti ini”.

Miris, lantaran tontonan tersebut bukannya menjadikan sebagian dari kita untuk bangkit dan mengobarkan semangat muda, sebaliknya justru terbawa arus. Diantaranya lebih suka mengunjingkan sisi negatifnya ketimbang berbuat sesuatu untuk menjadikan lebih baik.

Pertanyaannya, masih adakah yang perduli dengan kondisi seperti ini? Tentu saja masih banyak. Hanya saja sepertinya mereka lebih memilih berbuat dalam diam daripada berbuat melalui tindakan dan perbuatan.

Wallahualam..afwan

wassalam

BERITA POPULER